Menurut Kantor Berita ABNA, Republik Islam menilai mempertahankan integritas teritorial, persatuan, dan kesatuan negara-negara regional termasuk Suriah, sebagai sebuah prinsip dasar, serta membantu memerangi terorisme dan menciptakan keamanan sebagai tugasnya. Tehran percaya bahwa perubahan perbatasan negara tertentu tidak akan membawa perdamaian di kawasan.
Dalam pertemuannya dengan Ketua Parlemen Suriah Hadiyeh Khalaf Abbas di Tehran pada Selasa (27/9), Rouhani mengatakan sekarang sebuah perang yang kejam sedang dipaksakan terhadap rakyat Suriah oleh kelompok-kelompok teroris, yang tidak pernah berkomitmen dengan prinsip moral dan kemanusiaan.
Ia memuji perlawanan rakyat Suriah dalam kondisi sulit selama lima tahun terakhir terhadap para teroris. "Sayangnya, saat ini banyak dari negara-negara Islam di kawasan terjebak dalam konspirasi musuh dan masyarakat di sejumlah negara termasuk Suriah, Irak, Yaman, Libya dan Afghanistan tengah merasakan kondisi sulit dan beban berat," tambahnya.
Rouhani menegaskan bahwa Republik Islam akan mempertahankan prinsip-prinsipnya dan atas dasar bahwa terorisme adalah sebuah tantangan besar bagi kawasan dan dunia, Tehran percaya bahwa rakyat Suriah harus dibantu sehingga mereka mampu mengusir teroris dan negara-negara lain juga tidak punya pilihan lain kecuali membantu rakyat Suriah.
Presiden Iran juga yakin bahwa rakyat Suriah akan menjadi pemenang akhir dalam pertempuran itu.
Dalam pidato terbarunya di sidang Majelis Umum PBB, Presiden Iran juga berbicara tentang krisis Suriah dan menyoroti hambatan yang mencegah penyelesaian krisis secara rasional. Ia kembali berkata, "Ketika kaki para jenderal mulai menginjak kawasan, maka Anda jangan berharap para diplomat akan datang untuk menyambut mereka."
Ini adalah sebuah peringatan di mana negara-negara Barat tidak mempedulikannya dan sekarang kita menyaksikan berlanjutnya krisis, dan konflik Suriah saat ini sudah menjadi sebuah krisis yang besar di Timur Tengah.
Konflik Suriah sekarang berada dalam prioritas upaya regional dan internasional. Dalam beberapa hari terakhir, Dewan Keamanan PBB kembali mengangkat isu Suriah dengan harapan dapat mengatasi hambatan yang merusak gencatan senjata di negara itu. Akan tetapi, Amerika Serikat benar-benar bertindak semberono dan menggagalkan upaya masyarakat internasional dengan cara mendukung teroris.
Jika AS benar-benar ingin membantu rakyat Suriah, mereka harus bertindak untuk menghentikan teroris yang berbahaya bagi kawasan dan dunia.
Hal yang paling urgen dalam situasi genting saat ini adalah menyalurkan bantuan kepada rakyat Suriah dan membebaskan mereka dari kepungan teroris. Dalam hal ini, memerangi semua teroris termasuk Daesh dan Front al-Nusra di samping mengirim bantuan kepada rakyat Suriah adalah sebuah keharusan.
Tampaknya opsi yang tepat untuk membantu mengakhiri krisis Suriah adalah menggelar perundingan antara pemerintah Damaskus dan oposisi – yang berkomitmen dengan independensi dan tekad bangsa Suriah – untuk mencapai sebuah solusi politik dan kesepakatan komprehensif, yang merangkul semua kelompok etnis, politik, dan agama di negara itu.
Rakyat Suriah harus memutuskan masa depan negara mereka, sementara kekuatan besar dan AS harus bertindak untuk mengakhiri terorisme sebagai ancaman bagi semua negara di dunia.